Inspirasi Dari Tanah Kelahiranku

....

Selasa, 11 Februari 2014

Benteng Balangnipa



Juga merupakan obyek wisata yang berada di sebelah utara kota sinjai. Benteng ini merupakan peninggalan pada zaman peninggalan belanda. Di dalamnya terdapat banyak ruangan, ada ruangan untuk penyiksaan orang yang di sandera dari belanda yaitu biasa di katakan dengan ruangan penjara. Di mana terdapat 2 buah ruang penjara di dalamnya. 

Dari luar bisa kita liat terdapatnya dinding yang kokoh berwarna putih. untuk lebar dinding ini sekitar 0,5 meter. dan terdapat sebuah gerbang untuk pintu masuknya yang ukuran lebarnya dapat  mencapai 3 meter.

Di halaman Benteng ini juga bisa kita liat mempunyai pekarangan yang sanagt luas yang dimana dapat juga di pakai sebagai tempat parkir.

Sekarang Benteng ini juga mempunyai fungsi lain. Seperti, dapat di gunakan sebagai media pertunjukan maupun pameran karna area Benteng ini memang mempunyai kawasan yang strategis & tak jarang pula banyak orang yang melakukan foto prawedding karna pemandangan yang berada dalam benteng ini sangat indah dan nyaman.

Benteng Balangnipa
Selain Fort Rotterdam dan Bentang Somba Opu, Benteng Balangnipa adalah salah satu benteng terbesar di Sulawesi Selatan, bentuknya pun hampir sama dengan Fort Rotterdam. Benteng Balangnipa terletak di Kel. Balangnipa, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai dengan jarak 1 km dari pusat kota.
Bentuk asli dari Benteng Balangnipa terbuat dari batu gunung yang diikat dengan lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding  Siwali reppa (setengah depa).  Kemegahan dan kekokohan Benteng Balangnipa dimulai sejak awal abad XVI sekitar tahun 1557 oleh kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) dengan bentuk dan struktur bangunan yang menghadap ke Utara dengan pemandangan Sungai Tangka yang bermuara antara Teluk Bone dengan pusat Kota Sinjai.
Benteng ini merupakan saksi sejarah perlawanan kerajaan Tellulimpoe dalam menentang agresi militer jajahan kaum kulit putih dalam sejarah perjuangan  terbesar yang dikenal dengan nama Rumpa’na Mangngara Bombang yang terjadi pada tahun 1859-1961.
Empat buah Bastion (pertahanan) yang membentuk segi empat oval merupakan salah satu alat perang yang digunakan oleh kerajan Tellulimpoe dalam menolak serangan Belanda. Namun ketidakseimbangan kekuatan dalam hal persenjataan menyebabkan Benteng Balangnipa berhasil direbut oleh pasukan Belanda pada tahun 1859.
Setelah Belanda berkuasa di wilayah persekutuan kerajaan Tellulimpoe, Benteng Balangnipa dijadikan sebagai markas pertahanan bagi Belanda untuk membendung serangan pribumi persekutuan kerajaan Telllulimpoe. Sebuah meriam perunggu yang panjangnya 96 cm merupakan jejak peninggalan Belanda di benteng ini.

0 komentar:

Posting Komentar