Inspirasi Dari Tanah Kelahiranku

....

Rabu, 12 Februari 2014

Geisha - Lumpuhkan Ingatanku


Intro: G F#m D A
          D
Jangan sembunyi
                           G
Ku mohon padamu jangan sembunyi
                        Em
Sembunyi dari apa yang terjadi
                            A
Tak seharusnya hatimu kau kunci

D A

       D                          G
Bertanya, cobalah bertanya pada semua
                          Em
Di sini ku coba untuk bertahan
                           A
Ungkapkan semua yang ku rasakan

    E            F#m
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
        G        A
Kau tinggalkan aku

          G         Em            F#m      Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
          G          A
Ku ingin ku lupakannya

          D
Jangan sembunyi
                           G
Ku mohon padamu jangan sembunyi
                         Em
Sembunyi dari apa yang terjadi
                            A
Tak seharusnya hatimu kau kunci

          G         Em            F#m     Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
  Em       A              D
Hapuskan memoriku tentang dia
           G          Em           F#m    Bm
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
         G          A
Ku ingin ku lupakannya

Int: G Bm G A

          G         Em            F#m     Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
  Em       A              D
Hapuskan memoriku tentang dia
           G          Em           F#m    Bm
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
         G          A
Ku ingin ku lupakannya
          G         Em            F#m     Bm
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
         G          A
Ku ingin ku lupakannya
 Bm               A
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
 Bm
Kau tinggalkan aku

Selasa, 11 Februari 2014

Sejarah Kabupaten SINJAI



                    SEJARAH KABUPATEN SINJAI


KABUPATEN SINJAI dahulu terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan-kerajaan yangtergabung dalamfederasi TELLU LIMPOE dan kerajaan-kerajaan yangtergabung dalam PITU LIMPOE. TELLU LIMPOE terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir pantai yaitu Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti, sedangakn PITU LIMPOE adalah kerajaan-kerajaan yang berada di dtaran tinggi yaitu Kerajaan Turungeng, Manimpahoi, Terasa,Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.
Dalam lontara susunan raja-raja yang ada di Sinjai pada masa lampau, bahwa yang pertama menjadi Raja dan Arung ialah Manurung Tanralili, yang kemudian dikenal dengan gelar TIMPAE TANA atau TO PASAJA. Keturunan Puatta Timpae Tana atau To PASAJA merupakan cikal bakal dan pendiri Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti. Adapun kerajaan yang pertama berkembang di wilayah PITU LIMPOE adalah KerajaanTurungeng, Rajanya adalah seorang wanita yang diperistrikan oleh Putra Raja Tallo.
Salah seorang wanita kawin dengan seorang putra Raja Bone, dari perkawinan itu lahirlah tujuh orang anak, yaitu seorang anak wanita dan enam orang laki-laki. Anak yang wanita kemudian menggantikan ibunya memerintah di Turungeng, sementara yang lain ada di Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.
Bila ditelusuri hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai dimasa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekeluargaan yang dalam bahasa bugis disebut SIJAI artinya sama jahitannya. Hal ini lebih diperjelas dengan adanya gagasan dari LAMASSIAJENG Raja Lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo-bulo dengan Lamatti dengan ungkapannya PASIJAI SINGKURENNA LAMATTI BULO-BULO artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau diberi  gelar PUATTA MATINROE RISIJAINA.
Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama BENTENG BALANGNIPA sebab didirikan di Balangnipa, yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Sinjai.

Disamping itu, benteng inipun dikenal dengan nama BENTENG TELLU LIMPOE, karena didirikan secara bersama-sama oleh 3(tiga) kerajaan, yakni Lamatti, Bulo-bulo dan Tondong, lalu dipugar oleh Belanda.

Tahun 1564 adalah tahun yang amat bersejarah bagi daerah Sinjai yang diwakili oleh kerajaan Bulo-bulo yang mendapat banyak kunjungan dari dua kerajaan besar yang sedang berperang dan berebut pengaruh.hal ini disebabkan karena letak daerah Sinjai yang berada pada daerah lintas batas dan sangat strategis bagi kedua kerajaan yakni Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.

Mengingat bahwa kedua kerajaan yang sedang berperang tersebut mempunyai hubungan kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan Sinjai, maka TELLLU LIMPOE dan PITU LIMPOE berupaya untuk tidak memihak atau terlibat dalam perang tersebut, bahkan dengan penuh kecerdikan dan kearifan, raja-raja di Sinjai berusaha mempertemukan pimpinan kerajaan tersebut agar berunding dan berdamai.

Akhirnya pada bulan Februari 1564, RAJA BULO-BULO VI LA MAPPASOKO LAO MANOE TANRUNNA berhasil mempertemukan antara Kerajaan Gowa yang diwakili oleh I MANGERAI DAENG MAMMETA dengan LA TENRI RAWE BONGKANGNGE dari Kerajaan Bone, disaksikan oleh raja-rajalain, sehingga lahirlah perjanjian perdamaian yang kemudian dikenal dengan PERJANJIAN TOPEKKONG atau LAMUNG PATUE RITOPEKKONG.

Disebut LAMUNG PATUE RITOPEKKONG karena perundingan ini dilaksanakan dengan upacara penanaman batu besar, bagian batu yang dikuburkan dalamdalam dimaksudkan sebagai simbol dikuburkannya sikap-sikap keras yang merugikan semua pihak, sedang bagian batu yang timbul sebagai simbol persatuan yang tidak mudah bergeser.

Isi PERJANJIAN TOPEKKONG adalah
1. Madumme to sipalalo
    Mabelle to Siparoso
    Seddi Pabbanua pada rappunnai Lempa asefa mappanessa
2. Musunna Gowa musunna to Bone na Tellulimpoe
    Makkutopi assibalirenna
3. Sisappareng deceng teng sisappareng ja’
    Sirui menre teng sirui no’
    Malilu sipakainge mali siparappe

Artinya adalah :
1. Saling mengisinkan dalam mencari tempat bernaung
    Saling memberi kesempatan dalam mencari ikan
    Satu rakyat milik kita semua
    Kemanalah padinya dibawa itulah yang menentukan
    (Kerajaan mana yang dipilihnya)
2. Musuh Kerajaan Gowa juga musuh Kerajaan Bone dan Tellulimpoe
    Demikian pula sebaliknya
3. Saling memberikan kebaikan bukan kejahatan
    Saling bantu membantu tidak saling mencelakakan
    Yang lupa diri diingatkan, yang hanyut diselamatkan.
Tahun 1636 orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjaimenentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba dan memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan perang terhadap kerajaan Gowa. Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat tanggal 29 Pebruari 1639 bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan 1066 Hijriah, karena rakyat Sinjai tetap
berpegang teguh pada perjanjian Topekkong.
Tahun 1824 Gubernur Jendral Hindia Belanda Van der Capellen datang dari Batavia membujuk I Cella Arung Bulo-bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengijinkan Belanda mendirikan Loji atau Kantor dagang di Lappa tetapi ditolak dengan tegas. Belanda menyerang Sinjai di bawah pimpinan Jendral Van Green dan Kolonel Biischaff. Pasukan Sinjai di bawah pimpinan Andi Mandasini dan Baso Kalaka berhasil memukul mundur pasukan Belanda.
Tahun 1859 Belanda dengan pimpinan Jendral Van Swiaten kembali mengadakan serangan besar-besaran ke Sinjai, baik melalui laut maupun darat. Oleh karena kekuatan yang tidak seimbang maka akhirnya Sinjai direbut oleh Belanda. Tanggal 15 November 1861 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, taklunya wilayah Tellu Limpoe Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan GOSTER DISTRICTEN.
Tanggal 24 Pebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembagian administratif untuk daerah timur termasuk Residensi Celebes, dimana Sinjai bersamasama beberapa kabupaten lainnya berstatus sebagai Onther Afdeling Sinjai terdiri dari beberapa Adats Gemenchap, yaitu cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng.
Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditata sesuai kebutuhan bala tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng. Dalam kancah perjuang kemerdekaan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945, para rakyat Kabupaten Sinjai membentuk berbagai organisasi perlawanan seperti Sumber Darah Rakyat atau SUDARA, Kris Muda dan lain-lain. Pentai-pantai yang ada di Sinjai menjadi transit bagi para pejuang kemerdekaan yang akan ke Jawa dan sebaliknya.

Tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai Sinjai resmi menjadi Kabupaten berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959. dan tanggal 27 Pebruari 1960 Abdul Latif dilantik menjadi Kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang pertama.

Air Terjun Kembar Batu Bara'e


merupakan Obyek wisata yang berada di kacamatan Sinjai Borong. Perjalanan ke sini membutuhkan waktu sekitar 40 Menit dari Pusat Kota SINJAI. 

Di sini terdapat dua Buah air Terjun. Air yang mengalir dari atas merupakan perairan dari sungai Batu Bara e. 

Di sini juga terdapat sekitar 100 anak tangga yang merupakan cara untuk turun ke obyek wisata ini. 



Pantai Ujung Kupang


Pantai Ujung Kupang yang menjadi tujuan wisata alternatif warga Sinjai untuk melepas kepenatan. Setiap akhir pekan, terutama Sabtu atau Minggu dan hari libur lainnya, lokasi itu dipadati pengunjung. 

Para pengunjung pun datang dengan berbagai alasan. Ada yang ingin menikmati keelokan pantai serta panorama alam di sekitarnya, atau sekadar melepas penat, usai beraktivitas selama sepekan. 

Tak butuh waktu yang lama menuju ke objek wisata pantai itu, hanya sekitar 30 menit dan jaraknya pun kurang lebih 15 Kilometer sebelah timur Ibu Kota Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. 

Untuk menikmati suguhan keindahan alam wisata bahari itu, tak perlu mengeluarkan biaya yang mahal. Pengunjung hanya harus merogoh kocek untuk retribusi masuk Rp 2.000 untuk kendaraan sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil. 

Saat berada di objek wisata itu, pengunjung pun disuguhkan pemandangan alam yang eksotis nan memikat. Deretan pohon kelapa dan pohon lainnya, yang berada di bibir pantai menjadi pemikat tersendiri. 

Selain itu, hamparan pasir halus dan hembusan angin pantai yang sejuk membuat pengunjung merasakan suasana berbeda. Berbagai pemandangan panorama alam maupun aktivitas nelayan yang sedang melaut atau yang menambatkan perahunya di sepanjang bibir pantai, menjadi aktivitas tersendiri di pantai ini. Kesan alami inilah yang jarang ditemukan di objek wisata lainnya.

Pengunjung pun dapat menikmati keindahan panorama pantai dengan menggelar tikar di bawah pepohonan. Dan saat air pasang, banyak pengunjung yang memanfaatkan untuk bermain bola pantai, atau sekadar menelusuri bibir pantai sembari mengabadikan dirinya dengan pemandangan sekitar bibir pantai menggunakan kamera. Apa lagi saat matahari terbit (sunrise) dan terbenam (sunset), serasa berada di Pantai Kuta, Bali. 

Tak kalah menariknya, gugusan Pulau Sembilan tampak jelas terlihat dari pantai ini. Saat air pasang, hamparan bebatuan akan tampak di sekitar bibir pantai. Batu yang sudah terkikis air laut itu, membentuk pola tonjolan yang tak beraturan. 

Para pengunjung pun memanfaatkan batu ini sebagai tempat refleksi, dengan berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas hamparan batu. Mereka akan merasakan sensasi kesegaran, saat bebatuan tersebut menekan titik refleksi di kaki.

Logo Kabupaten SINJAI


logo Kabupaten Sinjai
Lambang Daerah Kabupaten Sinjai ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sinjai Nomor 6/PERDA/DPRD-1974 tentang Lambang Daerah berupa perisai bulat panjang dengan ukuran perbandingan tinggi dan lebar adalah 3 : 2, Makna yang terkandung dalam lambang daerah secara umum dapat dideskripsikan sebagai berikut:
  1. Kuda berwarna putih : Gambar ini dilatarbelakangi kondisi masa lalu dimana masyarakat Sinjai sebagian besar menggunakan Kuda sebagai hewan yang paling dominan membantu aktivitas keseharian masyarakat dan bahkan menjadi “kendaraan resmi raja-raja” yang kadang juga digunakan sebagai kendaraan perang. Selain itu kuda, juga melambangkan keperkasaan, ketekunan dan semangat kerja keras yang dimiliki masyarakat Sinjai. Sementara warna putih melambangkan bahwa dalam keperkasaan terkandung makna kesucian dan kejernihan itikad dan motivasi masyarakat dalam menjalankan aktivitas dan kehidupan kemasyarakatan.
  2. Perahu berwarna kuning : selain sebagai alat transportasi utama di perairan Sinjai dikala itu, maka gambaran perahu ini pula masyarakat Sinjai dalam mengarungi perjalanan sejarah yang panjang yang tentunya akan melalui berbagai riak-riak ombak sebagai gambaran tantangan yang akan dihadapi masyarakat dalam mewujudkan harapan Sinjai yang sejahtera.
  3. Perisai bulat panjang dengan warna hijau; Perisai menunjukkan sebagai benteng diri atau kelompok yang dapat divisualisasikan sebagai kuatnya komitmen kelompok untuk menjaga diri dari pengaruh-pengaruh negatif dari perkembangan budaya.
  4. Sementara warna hijau : melambangkan kesuburan bumi dengan segala potensinya, tempat masyarakat Sinjai menggantungkan harapan-harapan hidupnya.
  5. Simpul Pita pada leher kuda merupakan repsentasi 5 (lima) kecamatan (pada awal pembentukan) yang berada dalam sebuah bingkai ikatan kesatuan Kabupaten Sinjai.
  6. Pasak dengan warna putih menggambarkan ikatan kesatuan masyarakat di 38 (tiga puluh delapan) desa se-Kabupaten Sinjai ketika Sinjai resmi dibentuk menjadi sebuah Kabupaten Daerah Tingkat II. Hal ini juga melambangkan kerelaan masyarakat untuk mengikatkan diri dalam sebuah simpul kesatuan daerah.
  7. Bingkai berwarna hitam melambangkan kebulatan tekad masyarakat Sinjai.
  8. Tulisan SINJAI berwarna putih melambangkan kesucian dan keteguhan dalam perdamaian
  9. Warna dasar kuning melambangkan keagungan nama Sinjai sebagai daerah yang dikenal dengan nama yang harum sebagai Daerah Kabupaten.


Benteng Balangnipa



Juga merupakan obyek wisata yang berada di sebelah utara kota sinjai. Benteng ini merupakan peninggalan pada zaman peninggalan belanda. Di dalamnya terdapat banyak ruangan, ada ruangan untuk penyiksaan orang yang di sandera dari belanda yaitu biasa di katakan dengan ruangan penjara. Di mana terdapat 2 buah ruang penjara di dalamnya. 

Dari luar bisa kita liat terdapatnya dinding yang kokoh berwarna putih. untuk lebar dinding ini sekitar 0,5 meter. dan terdapat sebuah gerbang untuk pintu masuknya yang ukuran lebarnya dapat  mencapai 3 meter.

Di halaman Benteng ini juga bisa kita liat mempunyai pekarangan yang sanagt luas yang dimana dapat juga di pakai sebagai tempat parkir.

Sekarang Benteng ini juga mempunyai fungsi lain. Seperti, dapat di gunakan sebagai media pertunjukan maupun pameran karna area Benteng ini memang mempunyai kawasan yang strategis & tak jarang pula banyak orang yang melakukan foto prawedding karna pemandangan yang berada dalam benteng ini sangat indah dan nyaman.

Benteng Balangnipa
Selain Fort Rotterdam dan Bentang Somba Opu, Benteng Balangnipa adalah salah satu benteng terbesar di Sulawesi Selatan, bentuknya pun hampir sama dengan Fort Rotterdam. Benteng Balangnipa terletak di Kel. Balangnipa, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai dengan jarak 1 km dari pusat kota.
Bentuk asli dari Benteng Balangnipa terbuat dari batu gunung yang diikat dengan lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding  Siwali reppa (setengah depa).  Kemegahan dan kekokohan Benteng Balangnipa dimulai sejak awal abad XVI sekitar tahun 1557 oleh kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) dengan bentuk dan struktur bangunan yang menghadap ke Utara dengan pemandangan Sungai Tangka yang bermuara antara Teluk Bone dengan pusat Kota Sinjai.
Benteng ini merupakan saksi sejarah perlawanan kerajaan Tellulimpoe dalam menentang agresi militer jajahan kaum kulit putih dalam sejarah perjuangan  terbesar yang dikenal dengan nama Rumpa’na Mangngara Bombang yang terjadi pada tahun 1859-1961.
Empat buah Bastion (pertahanan) yang membentuk segi empat oval merupakan salah satu alat perang yang digunakan oleh kerajan Tellulimpoe dalam menolak serangan Belanda. Namun ketidakseimbangan kekuatan dalam hal persenjataan menyebabkan Benteng Balangnipa berhasil direbut oleh pasukan Belanda pada tahun 1859.
Setelah Belanda berkuasa di wilayah persekutuan kerajaan Tellulimpoe, Benteng Balangnipa dijadikan sebagai markas pertahanan bagi Belanda untuk membendung serangan pribumi persekutuan kerajaan Telllulimpoe. Sebuah meriam perunggu yang panjangnya 96 cm merupakan jejak peninggalan Belanda di benteng ini.

Taman purbakala Gojeng




Merupkan Obyek wisata yang berada di tengah-tengah kabupaten sinjai. Dari sini kita bisa melihat kota sinjai dari atas, di mana dapat kita lihat pemandangan yang indah kota sinjai baik dari segi daratan dan lautan

Salah satu primadona wisata di Kabupaten Sinjai adalah taman purbakala Batu Pake Gojeng yang terletak di ketinggian 50-96 meter diatas permukaan laut, tepatnya di Kel. Biringere, Kec. Sinjai Utara, sekitar 2 km dari pusat kota Sinjai.
Batu Pake Gojeng merupakan batu pahatan yang berada di Gojeng dan dipercayai sebagai batu bertuah bagi masyarakat setempat. Puncak taman purbakala Batu Pake Gojeng merupakan markas pertahanan Jepang dan tempat pengintaian terhadap kapal laut yang melintasi teluk Bone maupun pesawat terbang sekutu.

Dari ketinggian ini, Anda bisa memandang jauh deretan Pulau Sembilan dengan jejeran hutan bakau Tongke-Tongke yang rimbun serta laut biru yang menghampar di atas terumbu karang Larea-rea.
Selain memiliki potensi objek wisata alam, Benteng Balangnipa juga mempunyai nilai histories tersendiri yang kaya akan warisan budaya khususnya bidang arkeologi. Pada tahun 1982, oleh Rescue Excavation, ditemukan berbagai jenis benda cagar budaya (BCB) seperti keramik, tembikar, sejumlah kecil fragment keramik blue underglass serta gigi buvidae yang diperkirakan dari zaman Dinasti Ming, fosil kayu dan peti mayat.
Masing-masing peninggalan ini, mewakili peninggalan pada zamannya masing-masing. Peninggalan Megalitik terbukti dengan adanya batu berlubang dengan diameter yang variatif antara 15-70 cm yang tersusun secara acak dan dikelilingi oleh sejumlah lubang kecil dan diapit oleh dua buah lubang besar. Terdapat pula bongkahan alami yang memiliki ukuran  yang bervariasi serta batu berpahat persegi yang merupakan titik pusat dari variasi batu berpahat lainnya dimana yang berukuran paling besar dipercayai sebagai makam raja-raja keturunan Raja Batu Pake Gojeng yang pertama.
Bukti peninggalan arkeologis ini telah dirapikan dan dijejer sepanjang jalan setapak sebanyak 120 buah anak tangga menuju bukit dan dijadikan lokasi obyek daya tarik wisata baik alam maupun budaya. Di dalam areal situs, berbagai pohon dapat kita jumpai seperti cemara (Casuarinas sp), kalumpang (Stercuilla), pohon cenrana yang sudah tua, kelapa (Cocos nucifera), kamboja (Plumera accuminata), akasia (Casia sp) serta bougenville (Bougenvillea spectabilis). Selain flora, terdapat pula berbagai jenis fauna khususnya bangsa burung seperti burung rajawali Sumatera, burung beo, burung nuri Kalimantan, burung kutilang, serta jenis burung lainnya.
Dalam mendukung kepariwisataan di lokasi ini pemerintah setempat telah melengkapi dengan sarana pendukung (caravanning sites) seperti renovasi rumah adat taman purbakala serta fasilitas lainnya seperti permandian yang telah tua yang diyakini sebagai tempat permandian para raja, refreshing kid dengan taman bermain anak-anak seperti ayunan dan luncuran.